Wednesday, 16 August 2017

Ketangguhan dan Kehebatan Roni Pratama di Piala Asia II Lintas Alam Paralayang 2017

Roni Pratama di Piala Asia II Lintas Alam Paralayang 2017

Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) cabang olahraga dirgantara Paralayang Indonesia yang disiapkan untuk Asian Games 2018, mendapat pelajaran berharga dari Piala Asia II Lintas Alam Paralayang 2017.

Kejuaraan sebagai ujicoba lokasi dan perangkat lomba Asian Games XVIII 2018 Indonesia, menjadi ajang mengenal calon lawan.

Terbukti, perkembangan teknologi sangat berpnegaruh pada prestasi. Pilot Jepang dan Korea Selatan yang sudah memakai parasut khusus terbang lintas alam produksi terbaru tahun 2017, mengungguli Pelatnas yang masih memakai parasut buatan 2014.

Pilot Korea Selatan merebut medali emas seluruh kelas; Putri, Putra dan Beregu. Sedangkan pilot Pelatnas, Roni Pratama meraih perunggu Kelas Putra.

Dalam nomor lintas alam, parasut memadai sangat mempengaruhi kemampuan pilot bermanuver untuk menjelajahi termal (udara panas yang bersumber dari awan) guna mampu terbang sejauh mungkin dan mencapai titik dalm soal dengan waktu tercepat.

Digelar 11-14 Agustus 2017 di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, dengan diikuti 101 peserta (22 putri) asal 12 negara; Australia, Cina, Cina Taipei, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Thailand dan Vietnam.

Indonesia sebagai tuan rumah, menurut Tagor Siagian, Humas PB FASI (Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia) mengirim pilot terbanyak, yakni 23 (7 putri). Disusul Nepal (15), Korea Selatan (14/3 putri) dan India (11/1 putri). Nomor lomba adalah Race To Goal (Lintas Alam Terbatas). Para pilot diberi soal berbeda setiap harinya sesuai kondisi cuaca dan angin.

Saat Piala Asia II, jarak tempuhnya berkisar 8 hingga 12 kilometer setiap ronde. Mengarah ke radius 17 km sekitar kawasan Danau Lido, Sukabumi dan radius 22 km di kawasan Sentul. Setiap hari, pilot hanya terbang satu ronde.

Akibat kecepatan angin yang kurang memadai di lokasi lepas landas, yaitu 3-5km/jan, serta cuaca mendung, para pilot (sebutan bagi atlit olahraga dirgantara) tak banyak waktu untuk terbang, meski lomba setiap hari dibuka pukul 11 hingga 17.

Banyak pilot lokal maupun asing, lebih menyukai kawasan Batu Dua, Sumedang, Jawa Barat untuk terbang lintas alam. Lokasi yang digunakan Pra Piala Dunia (PWC) Lintas Alam pada 2013 itu, memiliki cloud base (ketinggian kumpulan awan) memadai.

Agar dapat terbang jauh, pilot perlu mencapai ketinggian maksimal sebelumnya. Awan yang mengandung udara panas, membuat parasut naik. Terlihat, begitu lepas landas, para pilot selalu mencari ketinggian dulu sebelum menyelesaikan tugas.

Wakil Presiden Federasi Aeronautika Internasional (FAI) induk olahraga dirgantara dunia, bidang Gantolle (Layang Gantung) dan Paralayang, Zeljko Ovuka asal Serbia yang menjadi pengawas teknis Piala Asia II, juga merasa bahwa kawasan Puncak kurang layak untuk terbang lintas alam.

“Sangat disayangkan pilot tidak bisa terbang jauh karena cuaca jelek. Mereka jauh-jauh ke Puncak untuk terbang jauh. Harus dicari lokasi lebih memadai untuk Asian Games. Belum lagi aturan lalu lintas searah di Puncak yang menghambat pergerakan peserta dan panitia pelaksana. Kepentingan pilot harus diutamakan. Tidak ada yang tidak bisa dirubah. Itu gunanaya Test Event,“ ucapnya.

Pemegang rekor nasional terbang lintas alam, Hening “Digma” Paradigma, sejauh 109 km dari Wonogiri ke Pati, Jawa Tengah yang dibuat pada 2012, merasa kondisi fisiknya tak maksimal. Jadwal lomba yang cukup padat dengan perjalanan melelahkan diakuinya ikut berdampak pada penampilannya.

Setelah semua anggota Pelatnas sebanyak 18 pilot (8 putri dan 10 putra) mengikuti Seri III Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC/Para Gliding Accuracy World Cup) di Mont Saint Pierre, Kanada, akhir Juli lalu, mereka turut dalam Seri III TROI (Trip Of Indonesia), kejuaraan Ketepatan Mendarat di Desa Segoro Gunung, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, awal Agustus.

Digma yang keluar sebagai juara Kelas Umum di Kanada bersama anggota Pelatnas lainnya, Milawati Sirin, tak terlalu khawatir dengan pencapainnya di Piala Asia.

“Dengan parasut lebih memadai, hasilnya pasti akan berbeda di Asian Games. Kita masih banyak waktu untuk berbenah,” ucapnya.

Setelah Piala Asia XC II, para anggota Pelatnas akan membela daerah masing-masing dalam Kejuaraan Nasional Lintas Alam di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, 13-17 September. 

Empat hari setelahnya, mereka akan bergabung kembali mengikuti Seri IV PGAWC di Pegunungan Kobarid, Slovenia, Eropa Timur, 22-24 September. Nantinya akan dibentuk tim nasional sebanyak 12 pilot (5 putri dan 7 putra) untuk mengikuti Asian Games XVIII Indonesia 2018, 18 Agustus-2 September.

0 comments:

Post a Comment